Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Seputar Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Puasa. Tampilkan semua postingan

Bernyanyi Meningkatkan Kemampuan Kuasai Bahasa Asing

Bernyanyi Meningkatkan Kemampuan Kuasai Bahasa Asing - Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Harvard University disebutkan bahwa bernyanyi memiliki manfaat kesehatan bagi paru-paru dan jantung, sekaligus mengurangi tidur mendengkur.
Baru-baru ini, hasil studi kembali menemukan manfaat unik lain dari bernyanyi, yaitu membantu seseorang lebih cepat belajar bahasa asing.



Tim peneliti dari Reid School of Music University memaparkan bahwa orang dewasa yang menyanyikan kata-kata atau frasa singkat dari bahasa asing, memiliki kemampuan dua kali lebih lancar mengucapkan bahasa asing.

Dikutip dari telegraph, Dr. Katie Overy selaku pimpinan penelitian menyatakan, “Kebanyakan orang memiliki pengalaman mengingat kata-kata dari lagu yang telah mereka dengar. Bahkan, lagu juga kadang-kadang digunakan oleh guru bahasa untuk mengajari anak kecil belajar.”
Studi ini dilakukan pada 20 orang dewasa. Mereka diminta mengikuti pembelajaran Bahasa Hungaria selama 15-20 melalui rekaman sebuah lagu. Kemudian para partisipan diminta untuk mengulangi kata-kata yang diperdengarkan dalam rekaman tersebut.

Hasilnya, lebih dari 60 persen partisipan dapat mengingat sekaligus mengucapkan kata-kata tersebut dengan benar. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Memory and Cognition.
Well, setidaknya penelitian ini menunjukkan bahwa masih ada cara yang menyenangkan untuk belajar menguasai bahasa asing. (Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar

Puasa Sunnah yang DIcintai Allah

Puasa Sunnah yang Dicintai Allah - Rasulullah SAW telah menganjurkan puasa pada beberapa hari tertentu. Beliau SAW juga menerangkan keutamaan-keutamaannya dalam berbagai hadis beliau. Rasulullah SAW juga sering berpuasa sunnah. Berikut ini adalah jenis-jenis puasa sunnah yang sering dilakukan dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW.



1. Puasa enam hari pada bulan Syawal.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Ayub Al Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, dan ia menambah enam hari pada bulan Syawal, maka puasanya itu sama dengan puasa sepanjang tahun."

Demikianlah nilai puasa bagi orang yang selalu berpuasa pada bulan Ramadhan, karena setiap perbuatan baik di dalam Islam mendapat nilai minimal sepuluh. Jadi bulan Ramadhan senilai dengan sepuluh bulan, dan yang enam hari, senilai dua bulan, jumlahnya: 12 bulan = satu tahun.

2. Puasa di hari Arafah (Tanggal sembilan Dzulhijjah).

Puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah ini hanya disunnahkan bagi mereka yang tidak menunaikan haji. Sementara bagi mereka yag tengah berada di Arafah menjalani wukuf dalam hajinya, tidaklah disunnahkan berpuasa. Hal ini untuk bertujuan agar kondisi fisik jamaah haji lebih prima dalam menjalani manasik hajinya.

Hadis yang menerangkan keutamaan berpuasa di hari Arafah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Jama’ah kecuali Bukhari dan Turmudzi, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Puasa pada hari Arafah, mengahapuskan dosa-dosa (kecil) dalam dua tahun, yaitu tahun lalu dan tahun yang sedang dijalaninya."

3. Puasa Hari Asyura (Tanggal 10 Muharam).

Sebagaimana diterangkan dalam satu riwayat, puasa di Hari Asyura, menghapuskan dosa setahun yang lalu. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasai, dari Hafsah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Empat macam (perkara sunnah) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, yaitu: puasa pada hari Arafah, puasa sepuluh (satu sampai sembilan pada bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari pada tiap bulan, dan sha­lat dua rakaat sebelum Shalat Subuh."

Ada tiga macam cara melakukan puasa Asyura, yaitu;

a. Berpuasa tiga hari, yaitu: hari kesembilan, kesepuluh dan hari kesebelas.

b. Berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh.

c. Berpuasa pada hari kesepuluh saja.

Puasa Rasulullah SAW yang paling banyak selain pada bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Sya’ban. Sebagaimana hadits yang Muttafaqun alaih, dari Aisyah RA yang mengatakan, "Saya tidak pemah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan saya tidak pemah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban."

Selain itu, riwayat dari dari Usamah bin Zaid RA juga mengatakan, "Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa Beliau SAW lebih banyak berpuasa pada Bulan Sya’ban."

Beliau SAW mejawab, "Bulan Sya'ban adalah bulan yang dilupakan orang diantara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, didalamnya segala amal ibadah manusia dilaporkan kepada Allah. Dan saya menginginkan saat amal ibadah sedang dilaporkan itu dalam keadaan berpuasa." (HR.Bukhari Muslim).

5. Puasa pada hari-hari bulan terang (Ayyamul Bidh)

 Dimaksudkan hari-hari bulan terang adalah tanggal 13, 14, dan 15 pada tiap bulan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Nasa'i, dan Ibnu hibban, dari Abu Dzar Al Ghifari mengatakan, "Rasulullah SAW telah menyuruh kami berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, yaitu; hari 13, 14, dan 15." Beliau SAW bersabda, "Puasa itu seperti puasa sepanjang masa."

6. Puasa Hari Senin dan Hari Kamis.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah RA mengatakan, "Bahwasanya Rasulullah SAW seringkali berpuasa pada hari Senin dan Hari Kamis." Ditanyakan kepadanya tentang sebabnya, Beliau SAW menjawab,"Sesungguhnya segala amal manusia dilaporkan kepada Allah pada setiap hari Senin dan Kamis. Maka Allah mengam­puni dosa setiap muslim, atau setiap mukmin, kecuali dua orang yang saling membelakangi, (tidak damai) Allah berfirman, "Tundalah amal keduanya."

Yang dimaksud dengan bulan-bulan haram ialah; Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharam, dan Rajab. Disunatkan memperbanyak puasa didalam bulan-bulan tersebut.

Menurut Ibnu Hajar, tidak ada satu hadits yang sahih mengenai keutamaan Bulan Rajab dan keutamaan berpuasa di dalamnya. Demikian juga mendirikan shalat pada suatu malam khusus di dalamnya.

 Ibnu As Subki menukilkan pendapat dari Ibnu Mansur Al Sam’ani, yang mengatakan, "Tidaklah warid suatu sunnah yang dapat dipegangi tentang puasa Rajab secara khusus. Adapun hadis-hadis yang diriwayatkan mengenai puasa Rajab itu, semuanya lemah dan tidak ilmiah."

8.Puasa Ala Nabi Daud.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW bahwa puasa sunat yang terbaik adalah puasa yang silih berganti dengan buka, sehari puasa, sehari buka.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Amer, Rasulullah SAW bersabda, "Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya Nabi Daud AS. Ia tidur pada pertengahan malam dan bangun untuk mendirikan shalat pada sepertiga (malam terakhir). Kemudian ia tidur lagi seperenam malam. Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari."(Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar

Belajar Ikhlas dari Ibadah Puasa

Belajar Ikhlas dari Ibadah Puasa

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Karena manisnya Ramadhan belum hilang, masih terasa indahnya beribadah di dalam Ramadhan, bahkan sebagian kaum muslim masih melanjutkan puasa setelah Ramadhan, sebagai penyempurna puasa Ramadhannya, yaitu Berpuasa 6 hari di bulan Syawwal.
Maka, pada kesempatan ini, dipaparkan salah satu pelajaran yang dapat diambil dari ibadah puasa yang baru kita lalui pada Ramadhan yang lalu.



Pelajarannya adalah, Ibadah puasa mengajari ikhlas yang sebenarnya.

Pengertian Ikhlas

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa pengertian ikhlas, diantaranya;

( الإخلاص ألا تطلب على عملك شاهداً غير الله ، ولا مجازياً سواه )

Artinya: “Ikhlas adalah kamu tidak menuntut seorang yang menyaksikan atas amalanmu selain Allah dan tidak mencari yang memberikan ganjaran atas amalanmu selain-Nya.” Lihat kitab Madarij As Salikin.
Ada yang lainnya mengartikan ikhlas dengan:

إفراد الله بالقصد في الطاعة.

“Menjadikan Allah satu-satunya yang dituju dalam ketaatan.”

استواء أعمال العبد في الظاهر والباطن.

“Sejajarnya amalan seorang hamba, baik di dalam lahir (terang-terangan) atau yang batin (tersembunyi).”

Bagaimana Belajar Ikhlas dari Ibadah Puasa?

Mari kita perhatikan hadits berikut;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى ». متفق عليه

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap amalan anak Adam dilipatkan, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh lipat sampai tujuhratus kali lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kecuali puasa, karena sesuangguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku Yang akan mengganjarnya, (karena) ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” HR. Bukhari dan Muslim.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

أن الصوم لا يقع فيه الرياء كما يقع في غيره حكاه المازري ونقله عياض عن أبي عبيد

“Bahwa puasa tidak terjadi di dalamnya riya’ sebagaimana terjadi pada selainnya, diceritakan oleh al Maziry dan dinukilkan oleh ‘yadh dari Abu ‘Ubaid.

قال القرطبي : لما كانت الأعمال يدخلها الرياء ، والصوم لا يطلع عليه بمجرد فعله إلا الله فأضافه الله إلى نفسه ولهذا قال في الحديث : (يدع شهوته من أجلي) .

“Berkata Al Qurthuby rahimahullah: “Ketika amalan-amalan (lain) dimasuki oleh riya’, sedangkan puasa tidak dapat dilihat dengan hanya melakukannya, kecuali Allah, maka Allah gandengkan puasa itu kepada diri-Nya, oleh sebab inilah Allah berfirman di dalam hadits: “Ia meninggalkan syahwatnya karena Aku.”

وقال ابن الجوزي : جميع العبادات تظهر بفعلها وقلّ أن يسلم ما يظهر من شوبٍ ( يعني قد يخالطه شيء من الرياء ) بخلاف الصوم .

Berkata Ibnul Jauzy: “Seluruh ibadah terlihat dengan melakukannya dan sedikit yang selamat yang terlihat dari duri (yaitu terkadang dicampuri oleh sesuatu dari riya’) berbeda dengan puasa.”
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قال الحافظ: "قد يفهم من هذا الحصر التنبيه على الجهة التي بها يستحق الصائم ذلك، وهو الإخلاص الخاص به, ثم قال: "وقد يدخل الرياء بالقول كمن يصوم ثم يخبر بأنه صائم، فدخول الرياء يكون بالقول، أما بقية الأعمال فإن الرياء قد يدخلها بمجرد الفعل".

“Terkadang dipahami dari pembatasan ini, adalah peringatan atas sisi yang di dapatkan oleh seorang yang berpuasa, yaitu ikhlas yang khususnya padanya,”
kemudian beliau berkata: “Dan terkadang (puasa) masuk (ke dalamnya) riya’ dengan ucapan, seperti seorang yang berpuasa kemudian ia memberitahukan bahwa ia berpuasa, maka masuknya riya’ dengan ucapan, adapun sisa dari amalan-amalan lain, maka sesungguhnya riya’ terkadang masuk ke dalamnya hanya dengan melakukan.” Lihat kitab Fath Al Bary, 4/107

Berkata Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah:

" وَهَذَا الحديثُ الجليلُ يدُلُّ على فضيلةِ الصومِ من وجوهٍ عديدةٍ :
الوجه الأول : أن الله اختصَّ لنفسه الصوم من بين سائرِ الأعمال ، وذلك لِشرفِهِ عنده ، ومحبَّتهِ له ، وظهور الإِخلاصِ له سبحانه فيه ، لأنه سِرُّ بَيْن العبدِ وربِّه لا يطَّلعُ عليه إلاّ الله . فإِن الصائمَ يكون في الموضِعِ الخالي من الناس مُتمكِّناً منْ تناوُلِ ما حرَّم الله عليه بالصيام ، فلا يتناولُهُ ؛ لأنه يعلم أن له ربّاً يطَّلع عليه في خلوتِه ، وقد حرَّم عَلَيْه ذلك ، فيترُكُه لله خوفاً من عقابه ، ورغبةً في ثوابه ، فمن أجل ذلك شكر اللهُ له هذا الإِخلاصَ ، واختصَّ صيامَه لنفْسِه من بين سَائِرِ أعمالِهِ ولهذا قال : ( يَدعُ شهوتَه وطعامَه من أجْلي ) .

“Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;
Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapt yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puas, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan syahwat dan makanannya karena Aku.” Lihat kitab Majalis Syahri Ramadhan, hal. 13.

Kalau Ikhlas, memang kenapa? Apa Kedudukan Ikhlas dalam agama Islam?

Berkata Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah menjelaskan salah satu urgensi ikhlas dalam amal ibadah:

منزلته: الإخلاص هو أساس النجاح والظفر بالمطلوب في الدنيا والآخرة, فهو للعمل بمنزلة الأساس للبنيان, وبمنزلة الروح للجسد, فكما أنه لا يستقر البناء ولا يتمكّن من الانتفاع منه إلا بتقوية أساسه وتعاهده من أن يعتريه خلل فكذلك العمل بدون الإخلاص, وكما أن حياة البدن بالروح فحياة العمل وتحصيل ثمراته بمصاحبته وملازمته للإخلاص, وقد أوضح ذلك الله في كتابه العزيز فقال: {أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ, وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}, ولما كانت أعمال الكفار التي عملوها عارية من توحيد الله وإخلاص العمل له سبحانه جعل وجودها كعدمها فقال: {وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُوراً}.

“Ikhlas adalah pokok dasar kesuksesan dan kemenangan dengan cita-cita di dunia dan akhirat, ia bagi amalan bagaikan pondasi untuksebuah bangunan dan bagaikan truh untuk jasad, maka sebagaimana bangunan tidak akan menetap dan tidak akan dapat diambil manfaat darinya kecuali dengan menguatkan pondasinya dan selalu menjaganya dari kerusakan yang terjadi padanya, maka demikian pula amalan tanpa ikhlas. Dan sebagaimana kehidupan badan dengan adanya ruh, maka kehidupan amal, pencapaian buah hasilnya dengan selalu menyertakan nya untuk keikhlasan, dan Allah telah menjelaskan akan hal itu dalam firman-Nya:

{أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } [التوبة: 109]

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” QS. At Taubah: 109.
Dan ketika amalan orang-orang kafir yang mereka lakukan terlepas dari mentauhidkan Allah, dan ikhlas beramal hanya kepada-Nya, maka Allah menjadikannya sebagai sesuatu seperti yang tidak ada, Allah berfirman:

{وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا } [الفرقان: 23]

Artinya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” QS. Al Furqan: 23. lihat kitab Al Ikhlas, karya beliau, hal 50.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin(Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar

Saat Hamil Muda, Bolehkah Berpuasa?

Saat Hamil Muda, Bolehkah Berpuasa? - Meskipun ibu hamil memiliki dispensasi untuk tidak berpuasa, tak sedikit ibu hamil yang merasa sanggup menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini.



Sebenarnya asalkan kondisi kehamilan sehat, ibu hamil bisa tetap berpuasa. Namun, jika Anda mengalami mual muntah berlebihan yang umumnya dialami ibu hamil di trimester satu, lebih baik keinginan berpuasa ditunda dulu.

"Pada trimester awal bumil sering merasa mual, pusing, lemas, dan muntah. Kalau begini sebaiknya jangan dulu berpuasa," kata ahli kandungan, dr Taufik Jamaan, SpOG pada seminar publik PB-IDI bertema "Puasa Keadaan Lapar yang Menyehatkan" yang diadakan di Jakarta, Selasa (2/7/2013).

Ibu hamil di trimester satu juga mengalami perubahan hormonal yang bisa berakibat naiknya produksi asam lambung sehingga timbul rasa mual dan muntah.

"Jika mual dan muntah terus berulang, bumil berisiko kekurangan nutrisi dan mengalami dehidrasi. Padahal, trimester pertama merupakan masa pembentukan otak dan jaringan saraf," katanya.

Kekurangan nutrisi di awal kehamilan bisa berakibat jangka panjang karena pembentukan saraf menjadi tidak sempurna.

Oleh karena itu, jika ibu hamil ingin berpuasa, wajib diperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka puasa.

"Kalaupun mau puasa biasanya kita sarankan selang seling, satu hari puasa, besoknya tidak," kata Taufik.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah tubuh dalam kondisi yang fit. Ibu hamil yang merasa pusing, lemas berlebihan, dan berkeringat dingin saat berpuasa disarankan untuk segera berbuka.

Ibu hamil yang menderita penyakit tertentu, seperti diabetes melitus, hipertensi, atau perdarahan, juga tidak disarankan berpuasa.

"Perdarahan biasanya dialami ibu yang terlalu memaksakan diri. Ibu dengan kondisi tersebut, jika tetap ingin puasa, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dulu untuk memastikan kesiapan berpuasa," katanya.

Untuk menjaga kesehatan ibu dan janin, Taufik menyarankan agar ibu hamil mempersiapkan diri minimal sebulan sebelum puasa. "Kalau memang siap tentu boleh, namun jika tidak sebaiknya jangan memaksa," pungkasnya.(Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar

Doa Hari Ke-5 Ramadhan 2013

Doa Hari Ke-5 :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْقَانِتِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ أَوْلِيَائِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ بِرَأْفَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

" Ya اللّهُ, ... Jadikanlah aku diantara orang-orang yang memohon keampunan dan jadikanlah aku sebagai hambaMu yang soleh dan setia serta jadikanlah aku diantara auliya’Mu yang dekat disisi Mu, dengan kelembutanMu, wahai Zat Yang Maha Pengasih di antara semua yang pengasih.



أَمِيْن يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ..(Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar
 
Support : Internet Marketing | Lele Sangkuriang | Kolam Ikan
Copyright © 2011. Ramadhan Tahun 2013 - All Rights Reserved
Template Created by Ramadhan Tahun 2013 Published by Konsultan SEO
Proudly powered by Blogger