Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sambut Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambut Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Ramadhan 2013, Tarif Hotel di Mekah Anjlok 150 Persen

Ramadhan 2013, Tarif Hotel di Mekah Anjlok 150 Persen - Mekah:Pejabat Kantor Pariwisata di Mekah membenarkan bahwa tarif sejumlah hotel anjlok drastis dan kembali ke tingkat normal di 10 hari bulan Ramadan.

"Kami telah menyaksikan penurunan itu (tarif) hingga 150 persen baik untuk hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram maupun kelas utama yang menghadap langsung ke Ka'bah," kata Fahad Al-Wethyiani, Kepala Komite Hotel dan Wisata di Kamar Dagang dan Industri Mekah.



Proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram yang akan menyiapkan puluhan ribu kamar baru, jelasnya, mempengaruhi harga-harga kamar kamar di sekitar kota suci.

"Penurunan tingkat hunian kamar tahun ini mencapai 15-20 persen. Para pemilik hotel, kini, menyediakan harga lebih rendah bagi pasar domestik guna mendongkrak tingkat hunian," ujarnya.

Al-Wethyiani mengatakan, tarif kamar hotel dalam beberapa tahun ini terus menurun. Menurutnya, perusahaan wisata asing dan perwakilan atau penyedia layanan haji memegang peranan besar dalam menciptakan spekulasi tarif hotel.

"Dulu, tarif dibandrol SR180 ribu (setara dengan Rp 480 juta) bagi kamar utama menghadap langsung ke Ka'bah selama 10 hari bulan suci Ramadan," katanya. "Namun sekarang anjlok hingga SR70 ribu (sekiiar Rp 187 juta) memasuki bulan ini. Turunnya hingga 150 persen." Dia menerangkan, "Meskipun ada demam jemaah (umrah) tahun ini namun kurang bisa mengeduk untung.

Kerajaan Arab Saudi sampai sejauh ini menghabiskan fulus SR100 miliar (Rp 267 triliun) guna membangun Mekah sebagai sebuah kota modern. Pembangunan ini dimaksudkan untuk peningkatan layanan bagi kebutuhan jutaan jemaah haji di seluruh dunia.(Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar

Tentang Malam 'Nishfu Sya'ban'

Tentang Malam 'Nishfu Sya'ban' -Terdapat banyak hadis menyebutkan keutamaan malam pertengahan Sya’ban. Setidaknya, tiga riwayat masing-masing dari Aisyah, Mu’adz bin Jabal, dan Ali bin Abi Thalib.



Hadis-hadis itu menegaskan bahwa di malam tersebut, Allah SWT akan turun ke langit bumi, lalu membuka pintu ampunan selebar-lebarnya.

Sebagian hadisnya memang lemah. Tetapi, rentetan hadis yang tidak tergolong palsu tersebut saling menguatkan satu sama lain. Maka, sayang bila melewatkan masa itu tanpa menghidupkannya.  
Bahkan, dosen UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Syariah dan Hukum KH Muhammad Bukhori Muslim mengatakan, ada hadis sahih riwayat Abu Bakar yang menjelaskan bahwa pada pertengahan Sya’ban (nishfu Sya’ban), Allah akan mengampuni seluruh makhluk, kecuali orang yang berbuat musyrik dan sedang bertikai.

Ia mengatakan, anjuran menghidupkan malam tersebut memang tidak ada, tapi ada ayat yang menunjukkan agar kita memperbanyak amalan agar bisa diampuni.
Membaca surah Yasin ataupun al-Ikhlas secara khusus di malam itu juga tidak ada dalilnya. Namun, ustaz yang juga anggota Komisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini mengatakan, selama berniat untuk meraih ampunan Allah maka tak jadi soal.
Menghidupkan Sya’ban pun boleh dilakukan secara berjamaaah dan boleh pula dilakukan secara sendiri-sendiri. Misalkan, digelar dalam satu majelis. Namun, niatnya harus untuk beribadah, bukan hanya untuk ber-nishfu Sya’ban.

Hadist shahih dari Imam Ahmad mengatakan bahwa Sya’ban merupakan bulan saat catatan amal diangkat kepada Allah SWT. Karena itu, Rasulullah memperbanyak puasa sunah sebab beliau ingin dilaporkan dalam keadaan beribadah.

Di luar Ramadhan, Rasul tak pernah berpuasa sebanyak yang dilakukannya di Sya’ban. Namun, berpuasa tetap niat untuk puasa sunah, bukan untuk puasa nishfu Sya’ban.
Sebab, tak ada dalil yang secara khusus menyebutkan puasa tersebut mesti diniatkan untuk pertengahan Sya’ban. Rasul hanya mencontohkan puasa sunah di Sya’ban dan boleh dilakukan kapan saja.

Dengan demikian, wajar bila muncul anggapan bid’ah terkait aktivitas pertengahan Sya’ban itu. Ini mengingat, minimnya pengetahuan sebagian kalangan yang mengkhususkan, lalu mewajibkan amalan hanya di Sya’ban. Jika ada unsur mewajibkan, rentan masuk kategori bid’ah yang dilarang.
Ia menyarankan agar perbedaan pendapat ini diluruskan dengan memberi pemahaman kepada mereka bahwa cukup mengganti niat beribadahnya, bukan secara khusus dan mesti untuk pertengahan Sya’ban. Itu agar amalannya tetap mendapatkan keutamaan.(Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar

Kontemplasi di Bulan Sya'ban

Kontemplasi di Bulan Sya'ban -Sya'ban dikatakan menjadi bulan sarana kontempelasi. Kaum Muslimin dapat menjadikan Sya'ban sebagai momentum evaluasi diri menjelang bertemu dengan Ramadhan.



Dai asal Papua, Ustadz M Zaaf Fadhlan Rabbani Garamathan menyatakan, apa yang dilakukan Rasulullah pada Sya'ban adalah untuk evaluasi diri.

Saatnya mengevaluasi diri, betapa sedikitnya waktu yang dimanfaatkan untuk beribadah. Terik mentari di siang hari dimanfaatkan untuk menghilangkan dahaga, bukan berpuasa. Malam selalu untuk bertiduran, bukan tahajudan. Suasana pagi bukan untuk berdhuha. Malah justru untuk berghibah.

"Semua itu harus jadi renungan betapa kita melalaikan waktu-waktu yang tepat untuk berdekatan dengan Allah," jelasnya.

Rasulullah, papar Fadhlan, menyadari harus selalu dekat dengan Allah. Terlebih lagi di Sya'ban yang jelas-jelas mendekati Ramadhan. Akan sangat sia-sia jika bulan tersebut tidak dimanfaatkan untuk membiasakan diri beribadah.

Ustaz Fadlan mengajak, mari bersihkan diri dari dosa. Jangan terus tenggelam dalam nista sehingga selalu dalam nestapa. Batin yang ada didalam setiap insan berhak bermunajat dan berdoa. "Jiwa merindukan kedekatan dengan Allah yang penuh cinta," jelasnya. Janganlah hasrat seperti itu menjadi sia-sia. Janganlah menyia-nyiakan Sya'ban hanya untuk dunia, yang penuh sandiwara dan nestapa.

Teringat akan sahabat Rasulullah yang tertulis dalam kitab-kitab salafussalih. Mereka semuanya merindukan Ramadhan sejak jauh hari. "Enam bulan sebelum Ramadhan tiba mereka tinggali. Semua hal duniawi," jelasnya. Yang menjadi fokus adalah ibadah untuk serasa dialam surgawi.
Beberapa hal dijelaskannya terkait Sya'ban. Pertama, jelas ustadz Fadlan, hindari, bahkan jauhkan dosa. Hati akan penuh dengan keraguan karena dosa. Keimanan sulit bertambah karena dosa. Kerinduan akan Ramadhan akan sirna. Ibadah jauh dari pahala. Yang ada hanya sia-sia. "Semua karena dosa. Jauhkan dia," jelasnya.

Kemudian perbanyak ibadah sunnah. Rasulullah sendiri mencontohkan untuk memaksimalkan bangun malam. Ketika sujud, Rasulullah melakukannya dengan khusyuk. Tiada lain yang ingin dicapai kecuali ridho Allah. "Rasulullah yang jelas-jelas diampuni dosanya masih melakukan itu. Kita harus bisa seperti itu," papar Fadhlan. (Ramadhan Tahun 2013)
0 komentar
 
Support : Internet Marketing | Lele Sangkuriang | Kolam Ikan
Copyright © 2011. Ramadhan Tahun 2013 - All Rights Reserved
Template Created by Ramadhan Tahun 2013 Published by Konsultan SEO
Proudly powered by Blogger